Kamis, 22 Desember 2022

 PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SDN TAMBAKAJI 03 MELALUI KESEPAKATAN DAN KEYAKINAN PADA PEMBELAJARAN PJOK DI KELAS IVA SDN TAMBAKAJI 03

Arifana, S.Pd

SDN Tambakaji 03

Calon Guru penggerak angkatan 7 Kota Semarang

Latar Belakang

Tugas utama guru adalah mendidik murid di sekolah. Supaya proses pembelajaran berlangsung dengan aman, nyaman dan menyenangkan maka budaya positif harus diterapkan baik dikelas maupun di sekolah. Untuk menerapkan kebiasaan budaya positif perlu diawali dengan perubahan paradigma dengan teori posisi kontrol dan penerapan disiplin positif melalui kesepakatan kelas.


Tujuan

Menerapkan budaya positif melalui disiplin positif. Membuat kesepakatan kelas dan keyakinan kelas Memunculkan motivasi intrinsik pada murid untuk menerapkan kesepakatan kelas.


Tolok Ukur

Kesepakatan kelas dan keyakinan kelas. Murid mempunyai motivasi intrinsik dari diri murid sendiri. Murid mampu megimplementasikan dan menerapkan keyakinan kelas yang telah disepakati bersama.


Lini Masa Tindakan

Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah tentang rencana kegiatan aksi nyata penerapan budaya positif. Mengumpulkan guru untuk mengikuti diseminasi tentang pemahaman budaya positif di sekolah. Berkolaborasi dengan guru kelas untuk membuat keyakinan kelas masing-masing. Mengidentifikasi budaya positif yang akan dikembangkan di kelas berdasarkan pendapat murid. Mengadakan survey tentang ide dan pendapat murid dalam mencapai kelas yang mereka impikan. Menyimpulkan ide dan pendapat murid. Mengubah dan menyesuaikan ide dan pendapat tersebut menjadi kesepakatan kelas Guru kelas bersama murid membuat kontrak kesepakatan bersama. Pelaksanaan tindakan penerapan budaya positif. Evaluasi dan refleksi.

DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

Dukungan dari Kepala Sekolah Dukungan dari Pengajar Praktik Calon Guru Penggerak Dukungan Rekan Sejawat Dukungan Murid Dukungan Orang tua/Wali Murid Dukungan lingkungan sekitar.


REFLEKSI

Dengan kegiatan ini saya belajar bagaimana membangun dan menerapkan Budaya Positif di SDN Tambakaji 03 yang mengarah ke perubahan karakter murid yang lebih positif. Murid dan guru sangat senang mengikuti berbagai kegiatan untuk membangun budaya positif di sekolah karena hal ini dapat mewujudkan lingkungan dan psikis/ mental yang sehat, aman dan nyaman pula. Melalui kegiatan budaya positif ini, akan dapat menunculkan motivasi intrinsik dari diri murid akan hal – hal positif dengan meninggalkan penerapan hukuman ataupun tindakan kekerasan agar murid tidak terbebani dan tidak menimbulkan efek traumatis bagi murid itu sendiri.

Setelah kegiatan berbagi praktik baik terlaksana, maka saya dan rekan guru mencoba menerapkan budaya positif di sekolah. Diawali dari pembentukan keyakinan kelas, kemudian penerapan program restitusi bagi murid yang melanggar kedisiplinan, serta menerapkan posisi kontrol sebagai manajer. Kegiatan ini kami laksanakan secara kolaborasi dengan tujuan agar dapat mencapai sesuatu yang diharapkan yakni munculnya motivasi intrinsik murid sehingga mereka dapat memunculkan karakter-karakter baik yang nantinya akan menjadi sebuah budaya positif di lingkungan sekolah.


KESIMPULAN

Kebiasaan baik akan membentuk karakter-karakter baik warga sekolah dan harapannya karakter-karakter baik akan membentuk sebuah budaya positif. Mewujudkan lingkungan yang positif merupakan tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik, sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Dengan lingkungan yang aman dan nyaman diharapkan dapat membuat murid dalam menerima dan menyerap pembelajaran lebih bermakna. Namun jika lingkungan belajar sudah tidak lagi aman bahkan tidak nyaman bagi murid, maka mustahil murid akan dapat mengembangkan potensinya dengan baik. Sebagai calon guru penggerak Angkatan 7 Kota Semarang, saya merasa perlu untuk berbagi kepada semua warga sekolah, agar nantinya dapat berjuang bersama-sama dalam membangun dan menerapkan budaya positif di sekolah.


 PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SDN TAMBAKAJI 03 MELALUI KESEPAKATAN DAN KEYAKINAN PADA PEMBELAJARAN PJOK DI KELAS IVA SDN TAMBAKAJI 03 Arifana...